Diversifikasi Pangan: Cara Menjaga Pangan Lokal dan Kelestarian Gambut

Sejak kapan makan selalu identik dengan nasi? Bahkan, sebagian orang merasa belum makan kalau belum menyantap nasi. Padahal, Indonesia punya beragam sumber pangan lokal yang tumbuh dari kekayaan alamnya. Sayangnya, kita jarang memikirkan ekosistem yang menopang sumber pangan tersebut. Ketika ekosistem rusak, keanekaragaman hayati dan sumber pangan ikut terancam. Lalu, bagaimana diversifikasi pangan bisa menjadi bagian dari upaya menjaga gambut?

Kemarin, aku berkesempatan mengikuti webinar #EcoBloggerSquad dengan tema #PeatlandIsNotWasteland bersama Pantau Gambut dan Mas Ahmad Arif. Dari diskusi tersebut, aku kembali melihat bahwa gambut bukan sekadar lahan yang bisa dimanfaatkan, melainkan ekosistem yang menyimpan begitu banyak kehidupan. Salah satu hal yang kemudian membuatku berpikir adalah hubungan antara kelestarian gambut dan keberagaman pangan yang kita konsumsi sehari-hari.

Mengenal Diversifikasi Pangan Lokal Indonesia

keragaman panganKalau menengok kembali cara leluhur kita makan, ternyata nasi bukan satu-satunya sumber karbohidrat yang mengisi piring mereka. Di masa kecil, aku sering melihat isi dandang kukusan bukan cuma berisi nasi, tetapi juga tiwul dan ampok. Sesekali ada ubi, jagung, dan pisang rebus.

Indonesia punya kekayaan pangan yang tumbuh mengikuti karakter alam dan budaya masyarakatnya. Di wilayah yang berbeda, kita menemukan kebiasaan makan dan sumber pangan yang berbeda pula. Ada masyarakat yang mengandalkan sagu seperti di Papua, ada yang mengonsumsi umbi-umbian, sementara sebagian lainnya menanam padi ladang, jewawut, hingga jelai.

Di Kalimantan, misalnya, sejumlah komunitas Punan memiliki tradisi meramu sagu dan umbi-umbian, sekaligus mengandalkan ikan serta hasil buruan. Masyarakat Dayak juga mengenal padi ladang dan berbagai sumber pangan lain yang tumbuh di lingkungan mereka. Sementara itu, tradisi pangan masyarakat Banjar dan Melayu semakin lekat dengan beras. Semua ini menunjukkan bahwa cara kita makan tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh dari hubungan panjang antara manusia, budaya, dan alam tempat mereka hidup.

Sayangnya, keberagaman itu perlahan semakin jarang kita temukan di meja makan. Padahal, pangan lokal bukan sekadar alternatif pengganti nasi. Di dalamnya ada pengetahuan leluhur, identitas budaya, dan cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungan. Mengenali kembali pangan lokal berarti membuka mata bahwa Indonesia sebenarnya punya lebih banyak pilihan daripada yang selama ini kita bayangkan.

Mengapa Pola Konsumsi Kita Semakin Bergantung pada Beras?

pangan lokalCoba perhatikan kebiasaan makan kita sehari-hari. Nasi sering kali menjadi menu utama, sementara makanan lain hanya dianggap sebagai pelengkap. Bahkan, seperti yang sering kita dengar, belum makan rasanya kalau belum makan nasi.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan makan nasi. Beras sudah menjadi bagian penting dari budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa sumber karbohidrat lain yang dulu dikonsumsi masyarakat kini semakin jarang hadir di meja makan?

Ketika Beras Menjadi Pusat Kebijakan Pangan

Dominasi beras di meja makan masyarakat Indonesia bukan terjadi dalam semalam. Akarnya semakin kuat pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto. Sejak akhir 1960-an, pemerintah menjadikan peningkatan produksi beras sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional melalui program seperti BIMAS dan pembangunan irigasi.

Upaya tersebut mencapai tonggak penting pada 1984, ketika Indonesia berhasil mencapai swasembada beras. Sebuah pencapaian besar dalam sejarah pertanian Indonesia. Namun, ketika beras semakin menjadi pusat kebijakan pangan, sumber pangan lokal tidak selalu mendapatkan perhatian yang sebanding.

Perlahan, beras semakin lekat dengan anggapan sebagai makanan pokok yang wajib ada di setiap meja makan. Sementara itu, sagu, singkong, ubi, dan sumber karbohidrat lokal lainnya lebih sering dipandang sebagai makanan alternatif. Padahal, jauh sebelum beras mendominasi, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia sudah memiliki tradisi pangan yang beragam.

Tentu, kita tidak perlu meninggalkan nasi. Namun, ketahanan pangan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak beras yang bisa diproduksi. Bukankah kekayaan pangan Indonesia justru terletak pada keberagamannya?

Bukan Sekadar Urusan Selera

Ketika satu jenis pangan semakin dominan, kita berisiko kehilangan lebih dari sekadar variasi menu. Pengetahuan tentang cara mengolah pangan lokal, tradisi bercocok tanam, hingga hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup juga bisa ikut memudar.

Padahal, keberagaman pangan adalah bagian dari kekuatan sistem pangan kita. Semakin beragam sumber pangan yang dikenal dan dikembangkan, semakin besar pula kesempatan untuk membangun sistem pangan yang sesuai dengan kekayaan alam setiap daerah.

Tanah Papua yang Hari ini Terbakar dan Kaitannya dengan Gastrokolonialisme

Gastrokolonialisme di papuaBelakangan ini, kabar kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan kembali mencuat. Merauke menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah. Namun, persoalan tanah Papua sebenarnya jauh lebih panjang daripada kebakaran yang kita lihat hari ini. Ada masyarakat adat yang hidup dari hutan, sungai, sagu, umbi-umbian, dan berbagai sumber pangan yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama generasi.

Kita bisa melihat persoalan ini melalui proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) yang dimulai pada 2010. Atas nama ketahanan pangan, kawasan hutan dan tanah adat dibuka untuk pengembangan pertanian skala besar. Pada webinar kemarin, dijelaskan bahwa sekitar 1,2 juta hektare tanah dan hutan adat masyarakat Marind-Anim telah dialokasikan atau diajukan untuk kepentingan perusahaan. Sementara itu, sejumlah sawah yang dibangun di kampung-kampung justru tidak berkelanjutan karena kondisi lahan, keterbatasan infrastruktur, dan sistem pertanian yang tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat.

Selain itu, di Papua juga dihadapkan fenomena menukar ikan dan sayur dengan ultra-processed food seperti mie instan. Padahal dari nilai gizi, jelas real food seperti ikan dan sayur jauh lebih baik.

Di sinilah kita bisa melihat kaitannya dengan gastrokolonialisme. Masyarakat yang sebelumnya memiliki sistem pangan sendiri perlahan kehilangan akses terhadap hutan dan sumber pangan lokalnya. Mereka kemudian semakin bergantung pada beras, mi instan, dan pangan industri dari luar. Bukan hanya sumber penghidupan yang berubah, tetapi juga pengetahuan, kebiasaan, dan budaya pangan yang telah diwariskan selama generasi.

Mengenal Ekosistem Gambut dan Perannya bagi Kehidupan

“Loh, banjir ya di tempat kamu?”

“Hah? Kok bisa di bawah rumah kamu ada airnya?”

Percakapan seperti itu mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi masyarakat yang tinggal di wilayah yang dekat dengan sungai dan perairan. Aku tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di sini, kehidupan masyarakat begitu dekat dengan air. Sementara itu, bentang alam gambut juga menjadi bagian penting dari lingkungan Kalimantan yang lebih luas.

Buatku, gambut bukan sekadar hamparan tanah basah. Ia adalah bagian dari lingkungan tempat kami hidup, sekaligus rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.

Gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dan mengalami pelapukan secara perlahan selama ribuan tahun dalam kondisi basah dan minim oksigen. Karena itu, air menjadi bagian penting dari kehidupan gambut. Bahkan, gambut mampu menyimpan air hingga 13 kali berat keringnya. Aku sering membayangkannya seperti spons raksasa yang menahan air saat musim hujan dan menjaga kelembapan lingkungan ketika kemarau.

Indonesia sendiri memiliki sekitar 24,2 juta hektare lahan gambut tropis yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Ekosistem ini bukan hanya menyimpan air dan karbon, tetapi juga menjadi habitat bagi beragam makhluk hidup. Ada ikan yang hidup di perairannya, burung yang mencari makan di antara pepohonan, hingga satwa liar yang bergantung pada hutan rawa gambut.

Mungkin itu sebabnya aku merasa kehilangan ketika suara berang-berang, burung cabak, atau kunang-kunang yang dulu menjadi bagian dari malam mulai jarang terdengar dan terlihat. Gambut bukan tanah kosong yang menunggu untuk dimanfaatkan. Ada kehidupan di dalamnya, termasuk kehidupan kami yang tinggal di sekitarnya. Menjaganya berarti menjaga rumah bagi begitu banyak makhluk hidup, sekaligus ruang hidup kita sendiri.

Kerusakan Gambut dan Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati

Ketika ekosistem gambut rusak, yang hilang bukan hanya pepohonan atau tutupan lahannya, tetapi juga habitat dan sumber kehidupan bagi banyak makhluk. Salah satu penyebab kerusakan gambut adalah pengeringan lahan melalui pembangunan kanal atau saluran air.

Padahal, gambut secara alami perlu tetap basah. Ketika airnya terus dialirkan keluar, permukaan gambut mengering dan kemampuan alaminya menyimpan air ikut terganggu. Gambut yang mengering menjadi lebih mudah terbakar, terutama saat musim kemarau. Api bahkan bisa merambat di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan.

Dampaknya tidak berhenti pada kebakaran. Perubahan kondisi air dan tanah juga dapat mengganggu kehidupan tumbuhan serta satwa yang bergantung pada ekosistem gambut. Ketika habitat rusak, ikan kehilangan lingkungan hidupnya, satwa kehilangan tempat mencari makan, dan masyarakat di sekitarnya ikut merasakan dampaknya.

Asap kebakaran pun tidak mengenal batas kawasan. Ia bisa masuk ke rumah, mengganggu aktivitas, dan mengancam kesehatan orang-orang yang tinggal jauh dari titik api sekalipun. Aku tahu betul rasanya hidup di tengah kondisi seperti itu. Ketika langit berhari-hari kelabu, udara yang seharusnya kita hirup terasa mengancam.

Karena itu, bagiku, kerusakan gambut bukan persoalan lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ini tentang rumah, kesehatan, pangan, dan makhluk hidup lain yang seharusnya bisa terus tinggal di ekosistem yang sama.

Karhutla 2026: Ratusan Ribu Hektare Lahan Terbakar

Tahun ini, rasanya sulit menganggap kebakaran hutan dan lahan sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan kami. Aku tinggal di Kalimantan dan sudah berbulan-bulan merasakan bagaimana asap mengubah udara yang kami hirup, mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan berdampak pada kesehatan keluarga. Namun, apa yang kami alami hanyalah sebagian kecil dari persoalan yang jauh lebih luas.

Data Pantau Gambut mencatat, sepanjang Januari–Agustus 2026, luas area terbakar di Indonesia mencapai sekitar 243.241 hektare. Kalimantan Tengah menjadi salah satu provinsi dengan angka tertinggi, yakni sekitar 61.101 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 19.976 hektare berada di area bekas proyek Food Estate Kalimantan Tengah.

Sebagai gambaran, pada 2023 luas karhutla di Kalimantan Tengah tercatat sekitar 165.896 hektare. Angka 2026 memang belum menyamai angka tersebut, tetapi data yang tersedia baru mencakup periode hingga Agustus. Artinya, kita belum bisa melihat gambaran keseluruhan kebakaran sepanjang tahun ini.

Di balik angka-angka itu, ada tutupan lahan yang hilang, habitat yang terganggu, dan masyarakat yang harus menjalani hari-hari dalam kepungan asap. Bagiku, puluhan ribu hektare bukan sekadar angka dalam laporan. Itu adalah ruang hidup bagi manusia dan makhluk lain yang ikut dipertaruhkan.

Aku sering bertanya-tanya, berapa banyak lagi ruang hidup yang harus hilang sebelum kerusakan ekosistem benar-benar kita anggap sebagai persoalan bersama?

Diversifikasi Pangan sebagai Langkah Menjaga Keberagaman Pangan Lokal

Lalu, apa hubungannya semua ini dengan isi piring kita? Menurutku, salah satu hal sederhana yang bisa mulai kita pikirkan adalah dari mana makanan yang kita konsumsi berasal dan seberapa beragam sumber pangan yang kita kenal. Diversifikasi pangan bukan berarti kita harus berhenti makan nasi. Ini tentang memberi ruang bagi sumber pangan lain yang selama ini mungkin mulai kita lupakan.

Indonesia punya banyak pilihan: sagu, singkong, ubi, jagung, talas, hingga berbagai jenis pangan lokal yang tumbuh sesuai karakter alam masing-masing daerah. Di Kalimantan, kita juga punya tradisi mengonsumsi ikan, umbi-umbian, dan hasil alam lainnya. Pangan-pangan ini bukan sekadar pengganti beras, tetapi bagian dari pengetahuan dan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan lingkungan tempat mereka tinggal.

Ketika sumber pangan kita semakin beragam, kita juga punya kesempatan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas. Namun, diversifikasi pangan tentu tidak cukup hanya dengan mengubah kebiasaan makan. Pangan lokal perlu didukung oleh petani dan masyarakat yang mengolahnya, akses pasar yang baik, serta kebijakan yang melindungi sumber pangan dan ekosistem tempatnya tumbuh.

Bagiku, kembali mengenal pangan lokal adalah salah satu cara untuk menghargai hubungan antara manusia dan alam. Kita tidak bisa berharap keanekaragaman pangan tetap terjaga jika ekosistem yang menopangnya terus rusak. Sebab, menjaga pangan bukan hanya tentang memastikan apa yang tersedia di meja makan hari ini, tetapi juga memastikan alam masih mampu menyediakan kehidupan untuk generasi berikutnya.

Menjaga Pangan Lokal, Menjaga Masa Depan Gambut

lahan gambut terbakar di BanjarbaruPada akhirnya, menjaga keberagaman pangan bukan hanya tentang mengganti nasi dengan sagu, singkong, atau umbi-umbian. Lebih dari itu, kita sedang berusaha mempertahankan pengetahuan, tradisi, dan hubungan masyarakat dengan alam yang telah terbentuk selama generasi. Setiap daerah punya kekayaan pangan yang tumbuh dari karakter lingkungannya masing-masing.

Sebagai seorang ibu yang tinggal di Kalimantan, ada harapan sederhana yang ingin terus kujaga: anakku bisa tumbuh dengan mengenal lingkungan yang menjadi rumah bagi begitu banyak kehidupan. Suara satwa di malam hari, kunang-kunang yang sesekali terlihat, hingga sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat semoga tetap menjadi bagian dari kesehariannya. Begitu pula dengan pangan lokal yang tumbuh dari alam Kalimantan, jangan sampai semuanya hanya menjadi cerita tentang masa lalu.

Tentu, menjaga keberagaman pangan harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem. Gambut perlu dijaga agar tetap basah, pembukaan lahan harus memperhatikan daya dukung lingkungan, dan masyarakat perlu mendapat ruang untuk mempertahankan sumber pangan lokalnya. Sebab, tidak ada ketahanan pangan yang bisa bertahan lama jika ekosistem yang menopangnya terus mengalami kerusakan.

Mungkin kita bisa memulainya dari hal sederhana: kembali mengenal pangan lokal, menghargai hasil pangan dari berbagai daerah, dan lebih peduli pada asal-usul makanan yang ada di meja kita. Namun, tanggung jawab menjaga gambut tidak berhenti pada pilihan konsumsi. Ada kebijakan, tata kelola lahan, dan upaya pemulihan ekosistem yang juga harus terus diperjuangkan.

Aku tidak ingin suatu hari nanti anakku hanya mengenal berang-berang, burung cabak, kunang-kunang, atau kekayaan pangan Kalimantan dari cerita dan foto. Aku ingin semua itu tetap menjadi bagian dari kehidupan yang bisa ia lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Karena itu, menjaga pangan lokal bukan hanya soal apa yang kita makan hari ini, tetapi juga tentang alam seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Menjaga pangan berarti menjaga alam yang menumbuhkannya. Menjaga gambut berarti menjaga kehidupan yang bergantung padanya.

Tinggalkan komentar