Petani Bangkit, Desa Makmur:

Perjuangan Petani Akar Wangi Garut Menuju Ekonomi Restoratif

Bertahun-tahun tanah itu menjadi saksi bisu kerusakan. Banyak yang mengira tak ada lagi kehidupan yang bisa tumbuh di sana. Namun para petani akar wangi di Garut membuktikan sebaliknya—dengan kerja kolektif dan semangat reforma agraria, mereka menyalakan harapan baru bagi kehidupan.

petani akar wangi garut jawa barat
panen akar wangi
petani pasundan
petani akar wangi garut
pengrajin akar wangi

Sebuah Pengantar

Di sebuah desa di kaki Gunung Cikuray, Garut, terhampar ladang hijau yang tampak biasa saja jika dilihat sekilas. Namun siapa sangka, dari tanah itu tumbuh sebuah tanaman yang aromanya harum, akarnya kokoh, dan nilainya mampu menembus pasar dunia. Tanaman itu bernama akar wangi atau vetiver.

Bagi masyarakat Garut, akar wangi bukan sekadar tumbuhan. Ia adalah penjaga tanah dari erosi, penopang kehidupan para petani, sekaligus simbol identitas lokal yang diwariskan turun-temurun. Harum akar wanginya merambah hingga ke parfum mewah, minyak pijat, hingga kerajinan tangan yang bernilai tinggi.

Namun, perjalanan akar wangi tidak selalu wangi. Tanah yang kini subur pernah terbengkalai, rusak akibat eksploitasi perkebunan besar. Para petani kecil sempat kehilangan pijakan hidupnya. Dari keterpurukan itu lahir semangat baru: semangat bangkit, mengelola kembali tanah dengan cara yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyat.

Inilah kisah bagaimana akar wangi Garut menjadi lebih dari sekadar komoditas. Ia adalah pintu menuju sebuah konsep besar yang disebut ekonomi restoratif—sebuah jalan yang tidak hanya memulihkan alam, tetapi juga menguatkan manusia dan menjaga budaya. Dari desa yang dulu miskin, perlahan lahir desa yang lebih makmur dan berdaya.

Daftar Isi

Reforma Agraria

Reforma Agraria

Penataan ulang kepemilikan & pemanfaatan tanah supaya lebih adil, demi kesejahteraan petani.

konsorsium pembaruan agraria

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)

Gerakan rakyat untuk pemerataan tanah & penguatan desa.

SPP

Serikat Petani Pasunsan (SPP)

Serikat petani di Jawa Barat yang bangkit kelola lahan, pulihkan ekologi, kuatkan ekonomi.

petani akar wangi garut

Akar Wangi

Tanaman khas Garut: cegah erosi, hasilkan minyak wangi, dan jadi sumber ekonomi desa.

Akar Wangi Garut: Lebih dari Sekadar Tanaman

Sekilas, akar wangi tampak seperti rumput biasa dengan daun panjang menjuntai. Tapi jangan salah, bagian akar pada tanaman inilah yang menyimpan kekayaan luar biasa.

Akar wangi bisa tumbuh menembus kedalaman lebih dari satu meter, membuat tanah tetap kokoh meski diguyur hujan deras. Tidak heran tanaman ini sering disebut sebagai “penjaga bumi” karena perannya mencegah erosi dan menjaga sumber air.

Namun, akar wangi bukan hanya pahlawan ekologis. Dari akarnya dihasilkan minyak atsiri yang harum, dikenal dengan sebutan vetiver oil. Minyak inilah yang menjadi bahan penting dalam industri parfum, kosmetik, aromaterapi, hingga kesehatan. Bayangkan, dari sebuah desa di Garut, harum akar wangi bisa hadir dalam parfum kelas dunia di Paris atau New York.

Lebih istimewa lagi, hanya ada sedikit tempat di dunia yang mampu menghasilkan akar wangi dengan kualitas terbaik: Garut (Indonesia) dan Haiti. Itulah mengapa akar wangi dari kaki Gunung Cikuray begitu istimewa, karena aromanya unik, khas, dan tidak tergantikan.

Bagi masyarakat Garut, akar wangi adalah warisan sekaligus harapan. Ia menjadi bagian dari budaya, ekonomi, dan ekologi yang saling terjalin. Tanaman sederhana ini telah menjembatani desa kecil di lereng gunung dengan pasar global, sekaligus menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Perjuangan Petani Akar Wangi Garut di Kaki Gunung Cikuray

Di balik harum minyak akar wangi yang mendunia, ada cerita panjang tentang perjuangan para petani di lereng Gunung Cikuray, Garut. Tanah yang mereka pijak, dulunya dikuasai oleh sebuah perusahaan perkebunan milik negara. Bertahun-tahun lamanya tanah itu dieksploitasi, hingga kehilangan kesuburan dan merusak sumber mata air di sekitarnya.

Ketika masa HGU perusahaan tersebut habis, tanah seharusnya kembali pada rakyat. Namun, lahan itu tetap dikuasai. Di sinilah para petani kecil yang tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP) mengambil langkah berani: merebut kembali hak mereka. Bukan untuk dieksploitasi, melainkan untuk dirawat, dipulihkan, dan dihidupkan kembali.  

Tumpang Sari: Strategi Ekonomi dan Ekologi

tumpang sari

“Semua ilmu pertanian yang kami terapkan adalah warisan dari orang tua atau kakek dan nenek kami terdahulu. Termasuk metode tumpang sari dan menanam tanaman keras seperti kopi dan alpukat. Agar tanah terjaga dengan baik,” tutur salah seorang petani. 

Pernahkah kalian mendengar tentang “tumpang sari”? Tumpang sari adalah metode menanam beberapa jenis tanaman dalam satu lahan. Di Desa Sukamukti ini, petani menanam akar wangi berselang-seling dengan jagung, cabai, tomat, atau sayuran lain.

Sistem ini memberi manfaat berlapis. Dari sisi ekonomi, sayuran dapat dipanen lebih cepat sehingga membantu memenuhi kebutuhan harian dan menjaga arus kas keluarga, sementara akar wangi tetap dipelihara sebagai investasi jangka panjang. Dari sisi ekologi, keberagaman tanaman membuat tanah lebih subur, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi risiko serangan hama, sekaligus menjaga struktur tanah agar tidak cepat rusak.

Hasilnya, lahan yang semula gersang perlahan berubah menjadi hamparan hijau yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga produktif dan berkelanjutan.

Namun jalan mereka tentu tidak mulus. Tantangan besar datang dari sistem ekonomi yang timpang: monopoli tanah, kekuasaan industri ekstraktif, hingga minimnya akses modal dan pasar. Meski begitu, para petani tidak berhenti berjuang. Mereka membuktikan bahwa dengan pengelolaan tanah oleh masyarakat, desa mampu bangkit, berdikari, dan menjaga warisan alamnya sendiri.

Apa yang diperjuangkan para petani sejatinya sejalan dengan amanat konstitusi. Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ayat (3) menegaskan bahwa “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Semangat inilah yang mereka hidupkan kembali: tanah bukan untuk dikuasai segelintir pihak, melainkan untuk menjadi sumber kehidupan bersama.

ilustrasi petani akar wangi

3 Fakta Menarik Akar Wangi

Akar Super Kuat

Akarnya bisa tumbuh lebih dari 1 meter ke dalam tanah dan disebut sebagai penjaga bumi.

Minyak Tahan Lama

Minyak atsiri dari akar wangi Garut punya aroma khas, lembut, dan tahan lama.

Hanya ada 2 di dunia

Minyak akar wangi kualitas terbaik hanya berasal dari Garut, Indonesia dan Haiti

Proses Panen dan Penyulingan Akar Wangi Garut

Bagi petani di Garut, panen akar wangi bukan pekerjaan sehari-dua hari. Tanaman ini baru bisa dipanen setelah berusia sekitar 1 tahun. Ketika musim panen tiba, para petani menggali tanah dengan sabar. Akar yang terkumpul kemudian dibersihkan dari tanah yang menempel, dipotong, dan dijemur agar kadar airnya berkurang. Dari sinilah perjalanan panjang akar wangi menuju minyak atsiri bermula.

Langkah berikutnya adalah penyulingan. Akar-akar yang sudah kering dimasukkan ke dalam ketel besar, lalu diberi uap panas. Dari ketel inilah perlahan-lahan tetesan minyak berwarna cokelat keemasan keluar, memancarkan aroma khas yang lembut namun bertahan lama.

Bahkan dari kejauhanpun aku sudah bisa mencium aroma segar dari akar wangi yang disuling.

Di Kecamatan Cilawu, Garut, pusat penyulingan terbesar berada di kaki Gunung Cikuray. Di sini, terdapat 17 mesin penyulingan yang beroperasi di tiga desa utama: Dangiang, Sukamukti, dan Mekarmukti. Total lahan yang ditanami akar wangi mencapai sekitar 362 hektar. Desa Dangiang menjadi yang terluas dengan 235 hektar, disusul Mekarmukti 80 hektar, dan Sukamukti 47 hektar.

Bayangkan, hanya dari tiga desa inilah harum akar wangi Indonesia bisa menembus pasar dunia hingga Brasil, Haiti, dan Swiss. Minyak vetiver dari Garut dihargai mahal, dengan harga terendah berkisar Rp2,6 juta per kilogram.

Namun ada satu tantangan besar: petani belum bisa menembus pasar ekspor secara langsung. Selama ini, mereka harus menjual hasilnya ke PT Givaudan Indonesia, sebelum akhirnya minyak akar wangi melanglang buana ke berbagai negara. Padahal, secara kualitas, akar wangi Garut hanya bersaing dengan Haiti sebagai produsen utama dunia.

Meski begitu, para petani tetap menjaga semangat. Bagi mereka, setiap tetes minyak bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi hasil kerja keras, pengetahuan turun-temurun, dan ikatan mendalam dengan tanah yang mereka rawat.

Reforma Agraria

Reforma Agraria Indonesia dan Jalan Ekonomi Restoratif

Perjalanan petani akar wangi Garut di kaki Gunung Cikuray tidak bisa dilepaskan dari perjuangan yang lebih besar: Reforma Agraria Indonesia. Bagi mereka, hak atas tanah bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan kunci untuk bertahan hidup. Tanpa tanah, petani kehilangan identitas, mata pencaharian, dan masa depan.

Melalui Gerakan Desa Maju Reforma Agraria (Damara) yang digagas Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) bersama Serikat Petani Pasundan (SPP), para petani mulai membangun sistem baru. Sistem ini tidak hanya membagi tanah secara adil, tapi juga menata ulang cara lahan dikelola agar selaras dengan kebutuhan manusia dan alam.

konsorsium pembaruan agraria

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)

KPA berdiri sebagai wadah kolektif dari berbagai organisasi rakyat, serikat petani, lembaga swadaya, hingga pegiat agraria di seluruh Indonesia. Sejak awal, misi KPA adalah memperjuangkan agar reforma agraria tidak berhenti sebagai jargon politik, tetapi benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari petani kecil.

Peran KPA terlihat jelas ketika mereka mendorong lahirnya Gerakan Desa Maju Reforma Agraria (Damara). Melalui program ini, desa-desa yang dulu tertinggal diberi ruang untuk mengatur kembali tata guna lahannya. Petani diajak menata ulang lahan bekas perkebunan besar, memperkuat kelembagaan desa, hingga membangun model ekonomi baru yang berakar pada kearifan lokal.

KPA juga aktif sebagai jembatan politik: menyuarakan aspirasi desa ke meja kebijakan nasional. Dari advokasi hak atas tanah, penolakan terhadap praktik perampasan lahan (land grabbing), hingga kampanye untuk pembangunan berkeadilan, KPA memastikan bahwa arah perjuangan petani tidak menyimpang. Ibarat kompas, mereka menjaga agar setiap langkah gerakan agraria tetap tegak lurus dengan amanat Pasal 33 UUD 1945: bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Serikat Petani Pasundan (SPP): Nyala untuk Perubahan dan Masa Depan

“Jangankan memikirkan makan untuk besok, memikirkan makan untuk malam ini apakah (dulu) bisa? Di sinilah SPP mengubah desa kami 180°, bagaikan cahaya di tengah kegelapan,” tutur Teh Yani dengan menggebu, seorang pengurus SPP. 

Jika KPA bekerja di level kebijakan, SPP hadir langsung di tengah sawah, kebun, dan desa-desa di Jawa Barat. Lahir pada 24 Januari 2000 di Garut, Jawa Barat, dari rahim perjuangan panjang petani melawan ketidakadilan agraria. Organisasi ini berakar dari pengalaman pahit petani menghadapi tanah yang dirampas, lahan tidur bekas perkebunan, hingga jerat tengkulak.

Bapak Asanudin, salah satu petani anggota SPP, menggambarkan peran ini. Dari semula hanya buruh tani, ia kini menjadi pengelola lahan akar wangi sendiri. “Tanah ini bukan hanya tempat saya menanam, tapi juga tempat saya membesarkan anak-anak saya,” ujarnya dalam forum diskusi antara SPP dan Eco Blogger Squad. Cerita Bapak Asanudin menjadi bukti nyata bahwa perjuangan agraria bukan teori, melainkan jalan hidup yang menegakkan martabat.

Hingga 2024, SPP melaporkan bahwa lebih dari 40.000 hektar lahan berhasil kembali ke rakyat dan dikelola oleh 92.000 petani anggota di lima kabupaten di Jawa Barat. Di Garut sendiri, SPP menjadi penggerak utama kemandirian petani akar wangi. 

Mereka bukan hanya mengorganisir akses lahan, tetapi juga mengajarkan praktik pertanian berkelanjutan, seperti tumpang sari dan konservasi sumber air. Lewat sekolah lapang (metode pendidikan non-formal yang menempatkan petani sebagai subjek pembelajaran di lahan mereka sendiri), SPP membekali petani muda dengan pengetahuan baru tanpa memutus tradisi. Bahkan, infrastruktur desa—mulai dari jalan tani, irigasi, hingga sarana pendidikan—dibangun lewat gotong royong yang difasilitasi oleh SPP.

“Saya bangga bisa bersekolah di sekolah yang didirikan oleh tenaga dan keringat orang tua kami sendiri,” tutur seorang siswi tingkat menengah dengan penuh semangat.

Sejak berdirinya, SPP juga berkomitmen pada pendidikan rakyat. Saat ini mereka telah berhasil mendirikan 1 pondok pesantren dan 13 sekolah gratis – mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMK – yang diperuntukkan bagi anak-anak petani dan masyarakat kurang mampu. Sekolah-sekolah ini tersebar di wilayah Jawa Barat, termasuk Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran.

Sekolah-sekolah inilah yang menjadi nadi perjuangan. Tempat yang tidak hanya sebagai sarana pendidikan, namun juga sarana memupuk rasa bangga pada profesi petani, mencintai tanah air dengan lebih bermakna, dan akses menuju informasi ekonomi kerakyatan yang valid.

Walau para siswanya sering dianggap “aliran kiri”, nyatanya lulusan SPP mampu membungkam anggapan tersebut. Banyak dari mereka yang berhasil masuk ke perguruan tinggi dengan beragam jurusan. Tak hanya sampai di situ, lulusan SPP pun ada yang saat ini menjadi kepala desa dan sekretaris desa. Ialah Deni Saputra kepala Desa Sarimukti dan Ade Gani sekretaris Desa Dangiang. Luar biasa bukan?

Forum Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Garut (FPPMG)

Berbicara tentang SPP, tak lengkap jika tidak menyenggol FPPMG. Karena SPP tidak bisa dilepaskan dari peran generasi muda yang tergabung dalam Forum Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Garut (FPPMG). Sejak pertengahan 1990-an, mereka mendampingi petani menghadapi konflik tanah, melakukan advokasi, hingga membentuk Yayasan Pengembangan Masyarakat (Yapemas) agar gerakan lebih terorganisir. Dari ruang diskusi mahasiswa hingga jalanan desa, FPPMG menjadi benih kesadaran yang kemudian melahirkan SPP sebagai pohon besar yang menaungi ribuan petani. Hingga kini, semangat kolaborasi pemuda dan petani itu terus menjadi denyut utama perjuangan agraria di Jawa Barat.

eco blogger squad

Suara Blogger & Kampanye Publik

Kedatangan kami, Eco Blogger Squad ke Tanah Pasundan disambut dengan hangat dan meriah. Ketika memasuki jalan menuju sekolah SMPS Al-Bayyan, sayup-sayup terdengar sholawat. Oh sedang ada acara Maulid Nabi, pikir kami. Siapa sangka, itu adalah sambutan yang dipersiapkan oleh SPP dan KPA untuk kami.

Berbagai hasil pertanian tersaji silih berganti. Aku suka sekali pangan lokal yang mereka sajikan, mulai dari kacang rebus, ubi rebus, tape singkong, dodol (tentunya ini nggak boleh ketinggalan karena Garut terkenal dengan dodolnya), hingga kopi arabika Cikuray. Jauh dari ulra proses food.

Sebagai pecinta makanan lokal dan kopi, aku yang sedang “cuti menjadi ibu” pun dimanjakan. Uap kopi yang mengepul memecah udara dingin di Kaki Gunung Cikuray, membuat aku betah. Aku tak perlu membayar tagihan AC untuk menikmati suhu dingin ini. Hehehe.

“Meneladani kisah Rosulullah dan sahabat, jangan sampai ada satu orang pun yang kelaparan di sini. Jangan sampai ada satu keluarga yang miskin. Semua harus hidup sejahtera. Kalau bisa, semoga semua orang di kampung ini bisa menunaikan rukun islam ke lima, yaitu bisa pergi haji,” tutur pimpinan pondok perantren yang didirikan SPP dengan semangat dan optimis. 

Selama forum diskusi pun, aku tak berhenti kagum dengan SPP.  Bagaimana cara mereka menabur semagat pembaruan agraria yang luar biasa ini? Dari anak usia SD sudah begitu paham dengan arti memperjuangkan tanah. Public speaking anak SD di sini pun sudah bagus. Para orang tua (petani) pun sangat paham tentang undang-undang. Mereka tak hanya mengolah lahan dengan ilmu agraria, tapi juga dengan ilmu hukum dan agama. 

Aku pun mengucap banyak terimakasih atas kesempatan baik ini. Bahwa aku bisa ikut menyuarakan perjuangan petani akar wangi di Garut yang tidak berhenti di ladang. Kisah mereka harus disebar luaskan agar sampai ke telinga lebih banyak orang. 

semangat reforma agraria

Lewat tulisan, foto, dan cerita ini, aku ingin menghadirkan wajah nyata dari perjuangan petani. Mereka tidak hanya bercerita tentang harum minyak akar wangi, tetapi juga tentang keringat yang menetes saat menggali tanah, tentang tangan-tangan yang sabar membersihkan akar, dan tentang semangat kolektif membangun desa yang lebih adil.

Tulisan ini akan menjadi jembatan antara desa dan dunia luar. Masyarakat kota, pembuat kebijakan, bahkan pembeli produk akar wangi bisa lebih memahami bahwa di balik setiap tetes minyak atsiri, ada sejarah panjang perjuangan reforma agraria.

Kampanye ini bukan hanya tentang akar wangi, tapi tentang masa depan desa di Indonesia. Dari cerita yang sederhana, lahirlah gerakan yang lebih besar: gerakan untuk menghargai tanah, menghormati petani, dan merawat bumi.

Penutup: Harum Perubahan dari Desa

petani pasundan

“Dulu waktu saya masih menjadi buruh di perusahaan, jangankan memikirkan masa depan, gajinya bahkan tak cukup untuk sehari-hari. Sekarang, setelah saya menjadi bagian dari SPP, saya punya harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Gaji tak hanya cukup, tapi juga bisa disisihkan sedikit demi sedikit,” tutur seorang penggarap lahan pertanian yang fotonya berada di sebelah. Terlihat binar bahagia yang tulus dan jujur. 

Aroma akar wangi dari kaki Gunung Cikuray bukan sekadar wangi yang menenangkan, tetapi juga simbol perjuangan. Ia tumbuh dari tanah desa yang dahulu dianggap miskin, kini menjelma jadi sumber penghidupan, kebanggaan, dan harapan baru.

Perjalanan para petani akar wangi di Garut mengajarkan kita bahwa perubahan besar bisa lahir dari akar yang sederhana. Dengan tanah yang adil, akses yang setara, dan semangat gotong royong, desa mampu bangkit dan menata masa depannya sendiri.

Inilah wajah nyata dari ekonomi restoratif—sebuah jalan untuk membangun kesejahteraan tanpa merusak, untuk menumbuhkan harapan tanpa meninggalkan siapa pun.

Dan pada akhirnya, perjuangan ini bukan hanya milik petani di Garut, tetapi juga milik kita semua. Selama kita percaya pada kekuatan tanah, tangan, dan kebersamaan, maka harum akar wangi akan selalu menjadi pengingat: bahwa dari desa, perubahan sejati bisa tumbuh. 

Hidup Petani Indonesia!

ilustrasi petani akar wangi

Tanah untuk Rakyat!

6 pemikiran pada “Petani Bangkit, Desa Makmur: Perjuangan Petani Akar Wangi Garut Menuju Ekonomi Restoratif”

  1. Keren banget yaa akar wangi ini menjadi salah satu minyak wangi terwangi di dunia. Jadi penasaran juga sama wanginya. Semoga bisa kebogor ikut terjun lngsung deh liat petani akar wangi…

    Reply

Tinggalkan komentar

Follow Us

© 2019 All Rights Reserved