Saat mendengar kata Raja Ampat, hal pertama yang terlintas dipikiran tentunya keindahan lautnya yang biru, gugusan pulau karst, dan kekayaan bawah laut yang menakjubkan. Tidak heran, jika Raja Ampat menjadi destinasi impian banyak traveler.
Tetapi ada cerita lain dari Raja Ampat yang menurut aku tidak kalah menarik untuk dibicarakan. Ini tentang hutan mangrove di Raja Ampat yang menjadi sumber ketahanan pangan lokal dan menjadi sumber penghasilan tambahan.
Mengolah Mangrove Menjadi Sumber Pangan Lokal
Hutan mangrove memiliki peran besar sebagai benteng kawasan pesisir dari terjangan ombak laut, abrasi, maupun erosi. Apalagi dengan kondisi perubahan iklim sekarang ini yang mengakibatkan permukaan air laut meningkat.
Mirisnya perubahan iklim berdampak buruk bagi ekosistem mangrove, karena mengancam kehidupan biota laut. Akar mangrove menjadi tempat ikan-ikan menaruh telurnya dan tempat berkembang biak biota laut lainnya.
Fakta lainnya dalam ekosistem mangrove juga bisa menjadi sumber pangan lokal bagi masyarakat pesisir. Cerita ini aku dengar dari Wawiyai Steve, pendamping masyarakat pesisir Raja Ampat yang melihat bagaimana krisi iklim perlahan ikut mengubah kehidupan masyarakat.
Dalam menyambut Bangkok Climate Action Week yang berlangsung dari tanggal 3 – 11 Oktober 2026 ini, eco blogger squad mengadakan event online untuk mengenal tentang ketahanan pangan lokal di Raja Ampat.
Bagi masyarakat pesisir, hutan mangrove bukan sekadar kumpulan pohon melainkan ruang hidup. Tempat mencari ikan, mengambil bahan pangan, membuat kerajinan, sekaligus ruang yang sejatinya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika Mangrove Perlahan Menghilang
Pertanyaannya, bagaimana jika hutan mangrove perlahan menghilang? Sebuah keresahan yang menjadi awal dari cerita Wawiyai Steve, karena setiap harinya mangrove mengalami degradasi.
Salah satu penyebabnya adalah kebutuhan bahan baku untuk pembangunan resort dan homestay di kawasan pesisir. Ketika pohon-pohon mangrove ditebang, yang hilang bukan hanya pohonnya.
Ruang hidup masyarakat pesisir dalam mencari sumber pangan semakin berkurang. Lalu, ikan dan biota pesisir lainnya juga kehilangan habitat alami.
Di Raja Ampat sendiri ada sebuah amanat leluhur yang menjadi pegangan masyarakat di sana hingga saat ini, bahwa “Alam bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk anak cucu di masa mendatang”.
Untuk itu, pengelolaan mangrove di Raja Ampat bukan hanya menjaga hutan tetap ada, melainkan bagaimana hutan mangrove bisa menjadi sumber ketahanan pangan lokal yang akan terus ada. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari Hutan Mangrove Menjadi Sumber Pangan Lokal

Mangrove juga dapat dikembangkan menjadi produk lain seperti sabun cair dan sabun padat. Sementara itu, bagian lain dari sumber daya pesisir juga dapat dimanfaatkan menjadi anyaman tradisional dan berbagai kerajinan souvenir.
Mangrove dan Cerita Pangan Suku Biak
Berbicara mengenai pengolahan buah mangrove, ada hal menarik dari cerita Wawiyai Steve. Ternyata pemanfaatan mangrove sebagai sumber pangan bukan hal baru di Raja Ampat.
Dahulu kala di abad ke-18 saat masyarakat Suku Biak melakukan perjalanan ke Raja Ampat, mereka sudah mengkonsumsi mangrove. Bahkan mangrove yang disimpan bertahun-tahun masih bisa dikonsumsi.
Dari cerita tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai pangan dari alam sebenarnya sudah ada sejak lama. Hanya saja, seiring perubahan zaman, sumber pangan lokal tersebut perlahan mulai ditinggalkan.
Itulah mengapa pengolahan pangan dari mangrove kembali diangkat. Dukungan dari The Asia Foundation juga mengajak masyarakat lokal dalam pemetaan partisipatif untuk mengenal kawasan khusus konservasi, wisata, dan yang dapat dikelola masyarakat.
Raja Ampat sendiri memang 90% wilayahnya merupakan kawasan konservasi, sehingga ada batasan tertentu untuk mengelolanya. Dengan ini juga, masyarakat dilibatkan dalam merawat dan menjaga hutan mangrove.
Perempuan dan Ruang Kelola Mangrove
Selain cerita tentang Suku Biak, hal menarik dalam pengelolaan mangrove di Raja Ampat yaitu pengelolaan sumber daya pesisir oleh perempuan. Kekuatan terbesarnya ada di peran perempuan, karena hutan di wilayah pesisir menjadi bagian dari ruang jelajah perempuan.
Mereka berinteraksi langsung dengan sumber daya alam yang tersedia di sekitar tempat tinggalnya. Karena itu, pada 2018 dilakukan pemetaan partisipatif untuk melihat bagaimana ruang kelola masyarakat dibagi antara kelompok perempuan dan laki-laki.
Dari proses pemetaan tersebut, masyarakat menemukan kekayaan mangrove yang selama ini ada di sekitar mereka. Tercatat ada 18 jenis mangrove sejati dan 28 jenis asosiasi mangrove.
Angka tersebut terlihat seperti data biasa, tetapi bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan mangrove, menjadi cara untuk kembali mengenali potensi sumber pangan. Mengenal jenis mangrove mana yang bisa dikelola dan aman untuk dikonsumsi.
Menjaga Mangrove Berarti Menjaga Masa Depan

Cerita ketahanan pangan lokal dari mangrove di Raja Ampat ini menjadi sebuah pengingat tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam. Menjaga hutan bukan berarti tidak boleh mengambil apa pun.
Masyarakat bisa memanfaatkan sumber pangan lokal dari hutan secara tidak berlebihan. Mengambil secukupnya, memahami batasnya, dan memastikan alam tetap bisa memberikan kehidupan untuk generasi berikutnya.