Senja di Papua Barat selalu punya caranya sendiri untuk bercerita. Cahaya keemasan merayap perlahan di antara pepohonan, menyoroti wajah anak-anak yang duduk melingkar sambil membuka lembar demi lembar buku yang warnanya mulai pudar. Suara mereka yang terbata-bata membaca, berpadu dengan desir angin sore — sederhana, tapi menggetarkan.
Aku belum pernah ke Papua Barat. Namun setiap kali membaca kisah tentang negeri di ujung timur Indonesia ini, ada sesuatu yang hangat bergetar di dada. Di balik panorama yang memesona, ada perjuangan sunyi para pendidik dan pejuang literasi yang berusaha menyalakan cahaya di tengah keterbatasan. Salah satu di antaranya adalah Merry Christine Sarce Rumainum, sosok di balik Pondok Baca Senja — ruang kecil yang membuka harapan besar bagi anak-anak Papua.
Cahaya dari Timur yang Menyala Pelan
Merry Christine Sarce Rumainum lahir dan tumbuh di Papua Barat, tanah yang ia cintai sepenuh hati. Di balik indahnya laut biru dan perbukitan hijau, ia menyaksikan kenyataan bahwa tak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar. Buku masih menjadi barang langka, dan sekolah-sekolah di pelosok kerap kekurangan fasilitas.
Sejak kecil, Merry mencintai buku. Ia masih ingat satu buku cerita bergambar yang dibacanya berulang-ulang hingga lusuh. Dari sana tumbuh keyakinan bahwa membaca bisa membuka jalan menuju dunia yang lebih luas. Setelah menempuh pendidikan tinggi, ia tahu harus kembali ke kampung halamannya — untuk menghadirkan cahaya yang dulu sempat ia rindukan.
Bersama beberapa relawan muda, Merry mendirikan Pondok Baca Senja, ruang literasi sederhana di bawah gerakan Papua Cerdas. Tak perlu bangunan megah; kadang kegiatan dilakukan di teras rumah, di balai kampung, bahkan di bawah pohon besar dengan tikar sebagai alasnya. Yang penting, ada ruang untuk belajar dan berbagi cerita.
Nama “Senja” dipilih karena baginya, waktu senja melambangkan keheningan dan harapan. “Seperti senja,” kata Merry, “kita mungkin sebentar, tapi bisa meninggalkan warna yang indah.”
Di pondok itu, anak-anak belajar mengenal huruf, mendengarkan dongeng, dan menulis impian mereka sendiri. Bagi mereka, buku bukan sekadar bacaan, melainkan jendela menuju masa depan. Dan bagi Merry, setiap anak yang tersenyum sambil memegang buku adalah cahaya kecil dari timur — yang pelan tapi pasti, menyalakan terang bagi masa depan Papua.
Langkah Kecil di Tanah yang Luas
Tak mudah membangun Pondok Baca Senja di tanah seluas dan sesunyi Papua Barat. Di awal perjalanan, Merry dan kawan-kawan muda relawannya harus berkeliling dari kampung ke kampung, menempuh jarak jauh untuk mengumpulkan buku. Sebagian mereka bawa dalam ransel, sebagian lagi dikirim dari sahabat-sahabat di luar Papua yang tergerak untuk membantu. Setiap buku yang tiba dianggap seperti hadiah berharga—bukan hanya kertas dan huruf, tapi juga harapan yang bisa dibagikan.
Pernah suatu sore, hujan deras turun ketika kegiatan membaca belum usai. Anak-anak berlarian mencari tempat berteduh, namun tak satu pun dari mereka menutup bukunya. “Kak, nanti ceritanya belum selesai,” ucap seorang anak kecil sambil memeluk bukunya erat-erat. Kalimat sederhana itu menancap dalam hati Merry. Ia sadar, semangat belajar tidak pernah benar-benar padam, selama ada yang mau menjaga apinya.
Dari pondok kecil di tepi kampung, cahaya itu perlahan menyebar. Setiap minggu, semakin banyak anak datang membawa rasa ingin tahu yang tumbuh dari waktu ke waktu. Orang tua yang awalnya hanya mengamati dari jauh, kini mulai ikut duduk mendengarkan cerita. Beberapa bahkan membantu menyediakan tempat, logistik, atau sekadar mengantar anak-anak mereka setiap sore.
Bagi Merry, setiap langkah kecil yang diambil bersama anak-anak ini adalah kemenangan tersendiri. Ia percaya perubahan tak harus lahir dari hal besar; cukup dari niat tulus dan ruang kecil yang diisi cinta. Dari Pondok Baca Senja, langkah-langkah itu mungkin tampak sederhana—namun di tanah seluas Papua Barat, langkah kecil pun bisa mengguncang masa depan.
Literasi yang Menyentuh Hidup

Bagi Merry, literasi tak berhenti pada kemampuan mengeja atau menulis. Ia adalah perjalanan memahami dunia dan diri sendiri. Di setiap kegiatan, ia berusaha menanamkan rasa percaya diri dan keberanian untuk bermimpi. “Setiap kali kamu membuka buku,” ucapnya lembut, “kamu sedang membuka pintu menuju masa depanmu.”
Kalimat itu menjadi mantra yang hidup di antara mereka. Anak-anak mulai membawa buku ke rumah, bercerita pada teman, dan menuliskan pengalaman harian mereka di buku catatan kecil. Dari sana, tumbuh keberanian baru — keberanian untuk bercerita, bertanya, dan menyampaikan pendapat.
Di tanah yang dulu dianggap jauh dari pusat perhatian, literasi kini menjelma jadi cahaya yang menghangatkan banyak hati. Pondok Baca Senja menjadi ruang tumbuh yang tak hanya mengubah cara anak-anak membaca, tapi juga cara mereka memandang masa depan. Bagi Merry, di setiap senyum dan tulisan kecil itu, ada harapan besar yang terus menyala: bahwa pendidikan bisa benar-benar menyentuh hidup, bahkan dari sebuah pondok sederhana di ujung timur Indonesia.
Refleksi: Tentang Mimpi, Harapan, dan Cinta untuk Timur

Di tengah segala keterbatasan, Merry membuktikan bahwa cinta pada pendidikan bisa tumbuh di mana saja — bahkan di tanah yang jauh dari gemerlap kota. Ia menyalakan lentera kecil lewat buku-buku bekas dan semangat anak-anak yang haus akan cerita. Dari pondok sederhana itu, lahir harapan baru bagi generasi Papua yang berani bermimpi lebih tinggi dari bukit-bukit di sekitarnya.
Aku membayangkan suatu hari nanti, menapaki tanah Manokwari saat senja, menyapa anak-anak Pondok Baca Senja yang duduk melingkar dengan mata berbinar. Di sana, mungkin aku tak datang sebagai penulis atau pengunjung, melainkan sebagai pembelajar — belajar tentang ketulusan yang tak mengenal pamrih, tentang makna memberi yang sederhana namun dalam.
Kisah Merry adalah pengingat bahwa mimpi tidak hanya tumbuh di tempat yang mudah, tetapi justru mekar di tanah yang keras, ketika ada cinta yang menjaga. Dan mungkin, di setiap senja yang berwarna oranye di langit Papua Barat, ada doa kecil yang berbisik: semoga cahaya dari timur ini terus menyala, menerangi langkah-langkah menuju Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya.
Buah Usaha dan Cahaya yang Menyala Lebih Terang
Perjalanan panjang Merry Christine Sarce Rumainum akhirnya berbuah manis. Dari pondok kecil yang ia bangun dengan cinta dan kesabaran, lahirlah gerakan literasi yang menyentuh banyak hati. Upayanya menyalakan api pengetahuan di tanah kelahirannya mengantarkan Merry menjadi penerima SATU Indonesia Awards 2024 bidang Pendidikan — sebuah penghargaan bagi sosok yang berjuang membawa perubahan nyata dari pelosok negeri.
Namun bagi Merry, penghargaan itu bukanlah garis akhir. Ia justru melihatnya sebagai awal dari misi yang lebih besar: memastikan semakin banyak anak Papua memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan dan keberanian untuk bermimpi. Ia ingin menumbuhkan generasi yang tidak hanya bisa membaca buku, tapi juga membaca kehidupan — memahami bahwa setiap halaman yang dibuka adalah langkah menuju masa depan yang lebih cerah.
Pondok Baca Senja kini menjadi simbol harapan yang tak pernah padam. Dari tempat itu, cahaya kecil terus menyala dan menyebar ke kampung-kampung lain di Papua Barat. Setiap buku yang dibaca, setiap tawa yang terdengar di bawah langit senja, menjadi bukti bahwa pendidikan bisa mengubah arah hidup seseorang.
Dan bagi kita yang membaca kisah ini, Merry menitipkan pesan sederhana namun kuat: perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil — dari satu buku, satu anak, dan satu niat tulus untuk berbagi.
🌅 Dari Pondok Baca Senja di ujung timur Indonesia, Merry Christine mengajarkan bahwa satu cahaya kecil bisa menyalakan langit harapan. Kini, giliran kita meneruskan nyalanya — dengan membaca, berbagi, dan percaya bahwa pendidikan mampu mengubah segalanya.
#APA2025-ODOP/PLM/BLOGSPEDIA
